Analisis‎ > ‎

Forum Studi Islam di Asia-Pasifik

posted Apr 12, 2018, 5:39 AM by Pusat Studi Masyarakat Muslim di MINAHASA   [ updated Apr 12, 2018, 6:10 AM ]

PENGANTAR STUDI ISLAM ASIA-PASIFIK
Oleh; Abdul Muis (Koordinator Forum Studi Islam Asia-Pasifik)..

Forum Studi Islam Asia-Pasifik yang tergabung dari mahasiswa IAIN Manado, Universitas Samratulangi Manaado, serta Politikenik Negeri Manado merupakan forum studi yang dibentuk berdasarkan keinginan besar untuk mengkaji Islam Nusantara dalam Narasi Asia-Pasifik yang diawali dari kajian Islam di Timur Nusantara.

Studi Islam di Asia pasifik merupakan kajian Keislaman yang unik, yang sejauh ini jarang didiskusikan. Studi Islam Pasifik adalah bentuk upaya untuk melihat Islam serta penyebarannya yang dimulai dari aktivitas para pengembara sekaligus penyebar agama Islam, termasuk aktivitas penyebaran Islam di tengah-tengah dominasi kolonialisme. Studi Islam di Asia Pasifik juga sebagai upaya untuk membangkitkan semangat para generasi muda untuk mengkaji kembali khazanah Islam yang ada di Nusantara, khususnya yang berada di Timur Nusantara. Dan lebih mengerucut pada konteks lokal, misalnya Sulawesi Utara.

Sulawesi Utara dari masa kolonial hingga pascakolonial mempunyai hubungan yang unik dengan agama. Sejak awal pertumbuhannya telah menjadi ‘pusat’ etnis dan budaya, di ujung utara pulau Sulawesi, sekaligus gerbang utama hubungan (interaksi) antara berbagai budaya, termasuk interaksi berbagai budaya tersebut dengan kolonialisasi Eropa. Manadomisalnya,  merupakan pintu masuk pertama dan salah satu pusat pengembangan kolonialisasi Eropa ke pelosok Minahasa pada abad 19 (Raymond Mawikere, 2004). Artinya, ini sesuai dengan sebutan Pramoedya Ananta Toer bahwa Nusantara yang disebut sebagai “Negeri Bawah Angin” memiliki karakter dalam menggambarkan soal pertemuan arus ide-ide antara Arab-Persia-India, juga Portugis-Belanda (yang dikenal sebagai negeri atas angin) dan Nusantara kita. Sebutan “bawah angin” untuk Nusantara kita, (kini Indonesia) sebagaimana di daerah sulawesi Utara, memberikan rujukan tentang dunia Bahari dan maritim kita yang kreatif dan tidak asal nrimo saja dari Arab atau dari bangsa manapun. Ada arus dari Arab atau bangsa lain yang kita terima, tapi juga kita akan membawa arus ke sana yang mereka akan terima.

Instrument arus itu berbasis arah angin. Angin Barat di Musim hujan (sekitar Oktober hingga April) membawa kapal-kapal negeri atas angin ke Nusantara. Di sini, mereka membawa barang, manusia dan juga Ide. Tapi, ketika masuk musim kemarau, (Juni Hingga Agustus), ia bertiup dari timur ke Barat. Maka giliran kapal-kapal kita yang bergerak ke negeri atas Angin, membawa barang kita, manusia kita, termasuk ide-ide Nusantara kita.

Jadi, Studi Islam di Asia Pasifik itu bukan subjek yang pasif, yang asal menerima saja apa yang datang dari Arab (Persia, India dan Eropa). Tetapi juga kita membawa ide-ide kita kepada mereka, mengolah ilmu mereka menjadi kekuatan kita, hingga kita bisa me-Nusantara-kan Arab, India, Persia bahkan Eropa-kolonial sekalipun.

Studi Islam di Asia Pasifik berbicara soal ARUS BALIK itu. Sebuah tema yang mengingatkan kita pada novel sejarah karya Pramoedya Ananta Toer yang Brilian. Di Awal studi islam di Asia Pasifik, kita akan membicarakan Islamisasi dalam konteks lokal, Lalu Indonesia Timur, selanjutnya Islam di Asia Pasifik.

Dalam kaitannya dengan penyebaran Islam di Manado Misalnya, Prof. Tumenggung Sis dalam tulisannya (1998) mengatakan bahwa sejarah masuknya Islam di Manado dimulai dari daerah-daerah pesisir yang menjadi pusat perdagangan dan pertemuan para nelayan. Sedangkan di daerah pedalaman Minahasa masuknya Islam dibawa oleh Kiyai Mojo dan pengikutnya yang diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai tawanan perang (perang Diponegoro 1825 – 1830). Mereka pada mulanya ditempatkan di pelabuhan Kema (Tanjung Merah) dan kemudian dipindahkan di daerah Tondano dengan pengawalan yang ketat oleh tentara Belanda. Pada akhir tahun 1982 mereka hidup menetap di perbatasan Tondano dan Tonsea dan kawin mawin dengan penduduk asli serta mengIslamkan para istri dan para pemuda yang mengawini keturunan mereka. Mereka membangun perkampungan yang dinamakan Kampung Jawa Tondano (Jaton) dan mulai dengan perjuangan baru yang berbeda dengan perjuangan mereka di Jawa ketika melawan tentara Belanda. Perjuangan baru itu ialah menyelamatkan diri dengan tetap berpegang pada Kalimat Syahadat. Untuk itu mereka mengadakan strategi adaptasi dengan lingkungan sosial budaya dan lingkungan alam demi kelangsungan hidupnya untuk masa depan. (Rompas, A.E. dan Sigarlaki, A. 1983:14).

Jadi, dalam hal ini dapat dilihat bahwa terjadinya proses islamisasi di sulawesi Utara dan di Manado khususnya, beriringan dengan terjadinya proses kolonialisasi di Sulawesi Utara. Dengan kata lain, proses Islamisasi tersebut tidak terlepas dari “manuver-manuver” orang-orang pesisir dalam misi penyebaran Islam, yang secara bersamaan berada diantara bayang-bayang dominasi kolonial.

Islamisasi, Produksi dan Konsumsi.

Studi Islam di Asia Pasifik juga akan menyoroti relasi sekaligus benturan antara “lokalitas” atau “yang lokal” dengan globalisasi atau “yang global”. Hal ini berangkat dari pandangan bahwa berbicara tentang lokalitas atau “yang lokal” tidak hanya berbicara tentang ruang materil yang didiami oleh suatu penduduk, tempat mereka lahir, hidup, berketurunan, lalu wafat di bumi leluhurnya. Lokalitas adalah juga ruang imajiner, ruang simbolik, yang dimaknai, diproduksi dan dikontestasikan dalam relasi-relasi sosial dan juga dalam relasi-relasi kuasa. Ruang bukan lagi sesuatu yang statis, mati, tidak bergerak, immobile, dan tidak dialektis. Tapi adalah sesuatu dinamis, yang bisa dimaknai, dibuat(-buat), diciptakan, dan juga dimanipulasi. Seperti kata “jalan”. Ia bisa berarti ruang material kalau saya mengatakan “Saya turun ke Jalan Samratulangi”. Tapi ia memperoleh arti tambahan yang bersifat simbolik, kalau saya mengatakan “Ayo turun ke jalan”. Dalam kalimat terakhir ini “jalan” tentu mengandung arti politis, berupa tuntutan yang ditujukan kepada lembaga-lembaga kekuasaan.

Demikian pula halnya dengan lokalitas. Lokalitas adalah sebuah pertemuan, proses tukar-menukar, gerak, perubahan, posisi, juga kesetiakawanan dan ke(tidak)samaan identitas. Lokalitas dengan kata lain adalah sebuah percakapan, perdebatan, sebuah ruang gerak dan relasi yang memungkinkan berbagai macam pencarian posisi-posisi baru. Dari sinilah kita bisa berbicara tentang lokalitas sebagai konstruk sosial, tentang produksi dan reproduksi lokalitas, dan tentang lokalitas sebagai arena perebutan ruang (Appadurai 1996: 178-199).

Namun, lokalitas bisa juga dimaknai bukan dari posisi pusat yang menjangkau kemana-mana, tapi dari posisi pinggiran yang menyiasati serbuan arus dari luar. Bisa saja secara fisik seseorang tidak berada dalam wilayah kampung halaman atau tempat kelahirannya, tapi ia membangun ruang “home” dengannya. Lokalitas selalu sifatnya kontekstual dan relasional.

Ulama-ulama Nusantara Misalanya, bukan hanya dilihat sebagai ulama yang menempati sekitar Nusantara, tapi juga yang menetap, di Johor, di Mekkah, bahkan hingga Eropa. Sebagaimana Kiyai Hasyim Asyari yang terkenal hingga timur tengah, atau Karaeng Pattingaloang yang namanya terkenal hingga di Eropa. Di titik ini, lokalitas menampilkan diri sebagai ruang gerak baru, ruang negosiasi baru, yang memungkinkan munculnya posisi-posisi baru di luar dari kehendak pusat. Lokalitas atau “yang lokal” adalah sesuatu yang kompleks karena ruang geraknya yang begitu cair, tanpa identitas abadi yang berkelana di sekitarnya.

Maka, Studi Islam Asia Pasifik juga akan mendiskusikan arus global atau “yang global”, yang merambah kemana-mana, yang membahana dan mendunia, yang dalam konteks lokalitas seperti ini akan dibaca lain, akan dimaknai secara berbeda. Bukan dalam posisinya sebagai korban, yang pasif dan pasrah diri, yang didikte dan dituntun oleh aturan-aturan baku dan ketat dari luar. Mereka sebaliknya menggunakan “yang global” itu untuk mengartikulasikan kepentingannya, atau menggunakannya sebagai bargaining baru memperkuat posisinya di depan kekuatan-kekuatan dominatif dan hegemonik. Ada proses timbal-balik yang melibatkan cara-cara pemaknaan yang tidak mesti sama dengan model pemaknaan di pusat (lihat Renger 1993: 65-98)..

Jika kita baca misalnya tulisan Disertasi Nazaruddin Syamsuddin di Monash University tentang Gerakan Ulama PUSA di Aceh, tampak konstruksi tentang “kita yang liberal dan modern” dan “mereka yang tradisional” mendominasi pemikiran mereka. Kebiasaan menggunakan generalisasi kategorikal atau pengkotak-kotakan ini bukanlah sebuah arahan yang netral, tetapi justru sebuah tafsir yang evaluatif. Evaluatif karena sudah penuh penilaian, stereotif, dan stigma tentang rakyat kita. Ketika ulama, kiyai dan kelompok tertentu disebut “tradisional”, maka tentu ada masalah dalam konteks politik dan sosial yang perlu dibereskan dan diajarkan tentang nilai-nilai kemajuan dan kemodernan.

Di sinilah agenda studi Islam di Asia Pasifik perlu segera diwujudkan. Yakni, mengkaji soal peranan “our ideas´ini yang menganggap pikiran kita hanya seperti gelas kosong yang bisa diisi apa saja semau mereka. Itulah yang terjadi kini. Banyak anak-anak kita belajar ilmu di luar, berguru kepada para orrientalis, dapat beasiswa dengan jumlah yang banyak, membaca banyak buku berbahasa Inggris, tetapi suara mereka sendiri sebagai orang Indonesia, sebagai anak-anak rakyat, justru di buang.

Secara Spesifik, tujuan studi Islam Asia Pasifik ini adalah sebagai berikut:

1. Menciptakan ruang baru bagi pengetahuan tentang islam diluar narasi mainstream.

2. Menggali pengalaman persentuhan islam dengan kolonialisme di wilayah/kepulauan yang ada di Asia-Pasifik.

3. Menyusun gambar besar tentang islam di Asia–Pasifik dari teks – teks tentang Islam yang kemungkinan belum ditulis dalam sejarah. Seperti menyusun sebuah pecahan puzzle untuk menghadirkan gambar utuh.

4. Memberi batas kepada dominasi narasi jawa tentang sejarah islam di Indonesia.

Selanjutnya, pembahasan dalam studi Islam di Asia Pasifik Meliputi:

1. Pembahasan dalam studi ini coba difokuskan untuk mempelajari sejarah awal mula islam, model kebudayaan/kultur, serta ideologi (baca ;keyakinan) masyarakat di suatu wilayah yang dibagi dalam 3 fase yaitu ; a) Pra – Kolonial, b) Masa – Kolonial, c) Pasca – Kolonial.

2. Alur pembahasan studi ini akan menggunakan pendekatan skala mikro ke makro. mula – mula kita akan mempelajarinya dari konteks lokal lalu kemudian perlahan lahan akan meluas pada konteks yang lebih global. Sebagai contoh, misalnya pada pertemuan awal, bisa saja kita akan mulai dengan tema pembahasan ; Islam di Sulawesi Utara.

Hal di atas dilakukan, antara lain, agar supaya tidak ada jarak (geep) yang begitu jauh antara ‘peserta’ studi dengan obyek yang dipelajari. Sehingga pembahasan studi ini harus dimulai dari letak dimana ‘peserta’ studi berada. Kedua, menciptakan ketertarikan bagi peserta studi sebab, jika dimulai dari letak dimana dia berada itu seperti peserta studi sedang belajar tentang dirinya sendiri.

(Manado, 02/10/2018)

 

Comments