Membaca Arah Politik Populisme Islam di Indonesia


Diskusi PS3M, Kamis 24 Januari 2019

PS3M Manado - Kamis, 24 Januari 2019 Pusat Studi Masyarakat Muslim di Minahasa (PS3M) kembali menggelar diskusi dengan tema "Membaca Arah Politik Populisme Islam di Indonesia"

Diskusi ini diselenggarakan di gedung rektorat lantai 2 IAIN Manado dengan pemantik diskusi Taufik Bilfagih, M.Si (Komisioner Bawaslu Kota Manado), Bapak Delmus P. Salim, Ph.D (Akademisi IAIN Manado), Baso Afandi (Praktisi Politik), Dr. Arhanuddin Salim, (Akademisi IAIN Manado) dan peserta diskusi yang terdiri dari Dosen dan Mahasiswa IAIN Manado.

Diskusi berlangsung selama 90 Menit, dibuka oleh Direktur eksekutif PS3M Sulaiman Mappiasse, Lc, M.Ed, Ph.D dan dipandu oleh Rahman Mantu, MA (Sekerteris PS3M) dan Rusdiyanto, M.Hum. Banyak hal yang didiskusikan dalam forum tersebut diantaranya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Bapak Delmus P. Salim, Ph.D, bahwa "Pengaruh Politik di Indonesia, hampir sama dengan yang terjadi di timur tengah".

Hal ini seperti dapat dilihat dari pergolakan politik Mesir di Zaman Husni Mubarok, serta di Suriah ketika oposisi (yang mengklalim populisme Islam) memainkan sentimen Syi'ah untuk menjatuhkan Assad. Hal ini kiranya hampir mirip dengan gerakan "sejuta umat" (Sebagai Populisme Islam) ketika Jokowi dianggap tidak representatif bagi umat Islam.

Peserta Diskusi PS3M, Kamis 24 Januari 2019
Selanjutnya, Taufik Bilfagih (Komisioner Bawaslu) menjelaskan bahwa Populisme Islam di Indonesia hari ini sudah jauh berbeda dengan populisme Islam para pendiri Bangsa terdahulu. Sebelum Indonesia Merdeka, Para tokoh-tokoh agama, dari ulama NU, Muhammaddiyah, hingga Syarikat Islam, berkontribusi besar dalam membangun
bangsa dan menjaga Negara dari pertikaian.

Para pendiri bangsa terdahulu telah melahirkan "perwujudan kultural Islam" yang terbentang sejak Islamisasi awal Nusantara abad ke-13 hingga ke-17. "Wujud Kultural" adalah wujud kebudayaan, di mana interaksi yang terjadi adalah interaksi nilai, bukan dominasi kekuasaan.

Hari ini,  populisme Islam lebih diwarnai dengan "Populisme Islam impor". Populisme Islam di Indonesia, menemukan momentumnya dalam fenomena Ahok dan pilkada tahun 2017.  Meski Ahok telah dipenjarakan, namun Aksi Bela Islam tetap berlangsung.

Atas nama populisme Islam, kemudian muncul jargon-jargon NKRI Bersyari'at,  "Yang Islam" versus "Yang kafir" atau "Muslim kaffah versus "Muslim westernis".  Hal ini kemudian berujung pada "Islamisme Massa" yang membenturkan secara oposisional antara "sistem kafir" versus "sistem Islami". Aksi bela Islam (212, 411) pada akhirnya mampu menjadi dinamisator wajah keberagamaan Islam di Indonesia.


[Dipostkan oleh info PS3M, Kamis 24 Januari 2014]





Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.